…
malam kian larut,
gelap menelan mentah-mentah cahaya,
diam,
sendiri hanya bunyi keyboard bermesraan dengan telunjuk,
entah tengah bermimpi apa saat ini sayang,
terengah rasa kantukku,
berlomba dengan hati yang mengelam.
kembali diam.
…

…
malam kian larut,
gelap menelan mentah-mentah cahaya,
diam,
sendiri hanya bunyi keyboard bermesraan dengan telunjuk,
entah tengah bermimpi apa saat ini sayang,
terengah rasa kantukku,
berlomba dengan hati yang mengelam.
kembali diam.
…
…
I’m not plastic, cold, hard, empty plastic.
I am original.
I live
love
hate
grow
and, I even make mistakes.
(I kill Barbie, to make Ken sad – mia anditha).
Chapter One
Tak pernah saya paham definisi cinta. apakah ia sama dengan rasa sayang? apakah cinta & sayang merupakan dua kata namun memiliki satu arti? apakah keduanya merupakan bagian tak terpisahkan? banyak pertanyaan tentang cinta di hati saya. dan tak pernah dapat saya jawab, walau telah bertanya lebih dari banyaknya orang yang saya tanya saat tersesat di jalan. tak pernah ada yang menjawab dengan memuaskan. semua pada akhirnya sama, kebingungan menjawab.
Chapter Two
Film pertama Sandra Dewi di putar di Cilandak Town Square, CITOS.
kulihat kalian bertiga.
dua tahun kemudian.
saya meresapi indahnya pantai senggigi mataram, lombok. haru biru, ada marah, kecewa, tawa, bahagia, pengkhianatan, permulaan, dan seribu satu ragam rasa menyergap sanubari. first time!
Chapter Three
definisi cinta versi saya adalah dimana kita bisa memaafkan setelah ribuan kata caci maki menghujam hati. memaafkan saat kebohongan terang benderang di depan mata, kita maklumi setelah tahu kondisi dan berusaha tahu kondisi mengapa harus berbohong. memaafkan kala memang dia salah dan tak ada alasan mengapa dia sampai berbuat salah. memaafkan tingkah laku tak logik yang dia lakukan yang sangat berseberangan dengan apa yang ada di dalam pikiran kita. memaafkan saat ketidaksesuaian pendapat dan sudut pandang dengan memaklumi bahwa berbeda asal, suku, latar belakang usia, pendidikan dan tingkat kedewasaan mempengaruhi. memaafkan tanpa perlu diminta. memaafkan tanpa perlu syarat. memaafkan tanpa perduli hitam putih omongan orang. memaafkan, selama dia tak berselingkuh dari kita. harga mati.
definisi cinta versi saya adalah ketika rasa cemburu masih dapat membakar dada. tak perlu yang logik. tak perlu ada alasan yang jelas. hanya cemburu. walau harus buta. cemburu buta. ia pertanda cinta memang ada. marah oleh pikiran ketidaksetiaaan lawan jenis, walau hanya fatamorgana. marah pada temannya yang ada di yahoo messenger, blackberry messenger atau di facebook. marah pada lawanjenis yang mengitari. hanya cemburu, walau tanpa harus ada alasan.
Chapter Four
tak ada manusia yang sempurna. tiap hal akan sampai pada titik jenuh. dan untuk kemudian akan mulai kembali siklusnya seperti semula. berputar kembali. tak perlu sedu sedan. hanya butuh suasana baru tanpa komunikasi. walau tak harus menghalalkan pengkhianatan untuk mengetahui apakah cinta masih bersemayam di hati. tak perlu memaksakan hati, karena ia juga bisa letih terhimpit oleh persoalan yang sama, yakni menyayangi orang yang sama. melelahkan setelah tahu tiap gerak sifat sikap sang pasangan. menjenuhkan pada suatu masa, dan membuat rindu pada masa yang lain. tak ada manusia yang sempurna.
Chapter Five – End
…
when we’re together times were good.
but i must walk within my heart.
though we’re apart, our thoughts are side by side.
our hearts and souls joined, they are joined still.
i try not to imagine how i will miss you.
love is like prayer, should not be lightly said.
…
I’m not plastic, cold, hard, empty plastic.
I am original.
I live
love
hate
grow
and, I even make mistakes.
(mia anditha).
…jenuh…
saya punya teman lama. atau sahabat. yang sekarang telah jadi kenalan. menjadi orang yang hanya saya kenal. sebuah proses persahabatan yang salah. entah karena waktu atau keadaan. atau pilihan. menurut proses normal, persahabatan dimulai dari proses perkenalan-pertemanan-persahabatan. kemudian dalam kondisi terburuk, menjadi permusuhan. saya tidak bermusuhan. hanya persahabatan tersebut mengecil kembali menjadi perkenalan, yang kini hanya menjadi orang yang saya kenal. tidak lebih. menurut saya, keadaan itu yang dia yang mau.
banyak masa mengasyikan yang kami lewati bersama. dahulu, saat kami menjadi sahabat. saya suka iseng, dan kadang sasaran keisengan saya sutrisno. pernah, di sebuah supermarket raya kami salah menafsirkan. kami harus membayar harga suatu barang. saya pikir sutrisno yang membayar. sutrisno pikir saya yang membayar. saling berharap. barang tersebut ternyata tidak kami bayar, tanpa sepengetahuan kami berdua. padahal barang tersebut sudah di “habisi” oleh sutrisno.
setelah sampai di kamar, saya tanya kwitansi pembayaran. haaaah, ternyata dia tak bayar. saya pun tak bayar. kami terkejut!! jadi, tadi kami melenggang kakung tanpa ngerasa beban. saya yakin, si empunya supermarket tak tahu siapa kami. tapi, niat mengisengi sutrisno muncul di kepala saya. “saya bilang, pasti kita di cari. mereka hapal wajah kita, terutama wajah sutrisno. saya racuni pikiran sutrisno tentang kekejaman sekuriti supermarket tersebut. wajah sutrisno memutih pucat sedikit pasi.
lima menit kemudian, sutrisno masuk kamar mandi. niat iseng saya muncul. pintu kamar kami berdua saya ketuk dari arah luar. tok….tok…tok…!! berkali kali dengan ketukan keras dan gebrakkan amarah. mengetuk pintu kamar dari arah luar. berpura pura jadi tamu. dan saya besarkan suara saya agar sutrisno dengar.
ucap saya dengan suara keras “ya pak? Apa? bapak sekuriti? haaah, bapak cari orang yang di supermarket tadi yang tidak bayar? bapak sekuriti ya? kenapa? mau di tangkap dan di gebuk?
sutrisno dalam kamar mandi merespon. air gemericik dari kran di kamar mandi dimatikan. tak ada suara dari dalam kamar mandi. hening. lebih hening dari pekuburan di malam jum’at kliwon. sepi. lebih sepi dari sepinya rumah angker berhantu. sutrisno, menurut saya, lagi menguping. mencoba menerka ada apa di luar. saya yakin sutrisno lagi memasang tajam pendengarannya, tajam lebih tajam dari silet. atau lebih tajam dari kata kata pedas presenter fanny rose. berusaha menguping. umpan saya mengena.
sutrisno, dalam ketakutannya berdiam diri dalam kamar mandi. hampir tiga jam mensunyikan diri, membiasakan diri di ruangan 2×3, menatap cermin di toilet, bersahabat dengan wastafel, kran air, closet dan aroma kurang sedap produksinya sendiri. saya berhasil mengisengi seorang redaktur pelaksana sebuah koran harian. dahulu sahabat saya. entah sekarang. betapa melegakannya. menulis ini, saya kangen dengan sutrisno wahyudi.
sudah lebih satu tahun setengah saya tidak bertegur sapa. dia tak mau saya hubungi. saya pun tak mau keras menghubungi. cukuplah sekali. dia juga sepertinya sudah tak mau menghubungi saya. tulisan ini saya buat, karena saya tanpa sengaja melihat comment sutrisno di facebook yahya ahmad zein. benar, yahya juga sahabat saya. suatu saat tentang yahya akan saya ceritakan. sebuah postingan comment yang biasa saja. tapi cukup dalam buat saya. saya sangat berharap, mereka tidak menggangap saya buruk. tidak berbicara hal buruk tentang saya. walau mereka telah tak bersahabat dan dekat dengan saya lagi. menghargai keputusan saya tentang apapun. termasuk tentang organisasi kami bersama. seperti saya menghargai keputusan sutrisno. menjauh dari saya.
ada satu hal yang saya petik dari sutrisno, yakni jangan pernah mengajak sahabat untuk ikut dalam sebuah pekerjaan yang melibatkan uang dan tanggungjawab. hal tersebut beresiko. biarlah sahabat tetap sahabat. dan pekerjaan tetap pekerjaan. biarkan hal tersebut tetap terpisah.
selamat menunaikan ibadah puasa dan idul fitri, sutrisno wahyudi.

.
Pesawat yang akan membawa teman saya (yang seorang psikiater) akan berangkat dua jam lagi. setelah check in saya mengajaknya membeli oleh-oleh makanan import (illegal) dari sabah-malaysia disebuah toko di daerah bilangan kr. anyar sebelum beliau kembali ke kotanya. saya tanyakan sebuah pertanyaan ringan mengapa cepat sekali kembali ke kotanya, jawab si dokter, “saya rindu suami dan keluarga saya”.
Ada beberapa teman saya yang telah memiliki istri cantik (dengan definisi sebenarnya) dan menurut saya memiliki keluarga bahagia. punya anak yang lucu, pintar dan sehat. sebuah gambaran keluarga harmonis. sepengetahuan saya, dalam keseharian mereka pun semua tampak harmonis. tutur kata dalam keluarga sopan, kegiatan teman saya sebagai ayah yang baik bagi anaknya juga dilakukan. mengajak bermain di game center, memancing, mengantar anak sekolah atau les privat, semua dilakukan dengan normal, seperti ayah pada umumnya.
Yang dilakukan pada istrinya pun terlihat mesra, memberikan hadiah ketika istri ulang tahun, liburan keluarga tiap tahun rutin, merayakan ulang tahun pernikahan hal yang biasa, menemani istri berbelanja di mall. sebuah keluarga yang menurut saya ideal. mawaddah, warahmah, sakinah.
sebuah pertanyaan muncul ketika saya dan beberapa teman saya tadi melakukan kegiatan bersama di luar kota. sebuah hal yang diluar kebiasaan, setelah pesawat mendarat di kota yang dituju, mereka aktif menelepon teman mereka di kota tersebut (wanita) untuk janji temu makan malam. berhenti sampai disitu? ternyata tidak. pada saat makan malam beberapa teman tadi mengenalkan “para wanitanya” ke saya, dan ketika beranjak tengah malam teman tadi masuk ke kamar masing-masing bersama “wanitanya” yang baru dikenalkan ke saya.
penghargaan saya terhadap keharmonisan rumah tangga mereka saat itu seperti sebuah kaca cermin berbingkai indah yang langsung pecah berserakan, dan sudut pandang saya ke mereka berubah total. saya jadi gamang, kacau balau, samar dalam mendefinisikan cinta, keluarga ideal, harmonis dan rasa sayang.
saya jadi teringat ucapan teman saya yang psikiater sebelum berangkat :
Sesungguhnya keadaan sebuah keluarga yang harmonis, penuh cinta dan tanpa permasalahan sebenarnya memiliki RESIKO YANG SAMA UNTUK RETAK & PECAH jika disandingkan dengan keadaan keluarga yang penuh pertengkaran, kekurangan secara materi-psikologis dan kasih sayang.
seimbang dalam hal kemungkinan untuk pecah.
Dua keadaan tersebut sama rapuh serta riskannya dalam hal perselingkuhan bahkan perceraian.
Jika memang keadaannya seperti itu, bukan tak mungkin hal tersebut menimpa kita bukan???
bagaimana mengatasi hal tersebut, dengan cinta? kasih sayang? kepercayaan? perhatian? anda yakin dengan jawaban anda dan yakin bahwa hubungan anda tidak riskan dengan hal diatas???

.
“Perbuatan apapun yang dikau lakukan pada orang lain, apapun itu, hal tersebut akan selalu membekas dan menorehkan tanda pada orang lain untuk selamanya”.
Saat itu, aku duduk dibalik kaca gelap menatap seorang penjual buku keliling yang tengah beristirahat di beranda kantorku. dia tak dapat menatapku, namun sebaliknya aku dapat melihat tingkah polah apa yang tengah dilakukannya. sekilas aku melihat, raut wajahnya menyiratkan bahwa perjuangan dia melawan hidup begitu keras. kerut wajah dan warna kulit kusam yang dialiri keringat, menandakan bahwa “hidupnya adalah perjuangan”.
aku mengikuti jumlah uang penjualan buku yang tengah dihitungnya melalui balik jendela. rentetan lembar rupiah pindah dari saku ke tangannya, setelah gumpalan uang tersebut diusap rata olehnya. ada dua puluh tujuh ribu rupiah, menurut hitunganku. satu lembar sepuluh ribuan, tiga lembar lima ribuan dan dua lembar seribuan.
kulihat dia menghela nafas, cukup panjang. entah karena lelah atau karena jumlah uang yang dihitungnya. kuraba dompetku, saat ini aku yakin isinya berkali lipat dari jumlah yang dimilikinya. hari ini, aku ingin berbuat kebaikan.
aku keluar, menyapa dia ringan sembari menyodorkan segelas air mineral dan langsung mengambil tempat duduk disebelahnya. kumulai pembicaraan dengan tema cuaca siang yang terik. dia menyambut ceritaku. kudapat cerita, dari nilai buku bilamana terjual sebesar lima puluh ribu rupiah, dia mendapatkan untung sepuluh ribu. dari situ kusimpulkan saat ini keuntungannya baru setengah.
Pada suatu siang pada tahun yang sangat lalu, terminal bis bungurasih Surabaya
di Pos Polisi, kusampaikan aku benar-benar kehabisan uang untuk kembali ke Kostku di Kota Malang. entah, karena uang terbatas pilihanku saat itu ada dua, mengisi perut yang telah kosong sejak kemarin siang atau membeli tiket bis pulang ke malang. perutku tak mau diajak diskusi.
ada suatu surat yang bisa diminta di pos polisi saat itu, untuk membebaskan seorang penumpang dari kewajiban membayar ongkos bis bila dalam kondisi darurat. sebuah kebijakan yang sangat menolong. dan surat itu kugenggam sembari mencari tumpangan bis. tak ada bis yang mau menerima penumpang tanpa ongkos, walaupun ada surat. dan setelah empat jam berjibaku dengan panas, seorang yang tak kukenal menghampiriku, wanita!! dan dia bekerja sebagai kenek bus. terbaca dari pakaiannya. menghampiri, menyerahkan sejumlah uang untuk membeli tiket bis kepadaku, kemudian pergi begitu saja. terimakasih, ujarku lirih dalam hati.
“Perbuatan apapun yang dikau lakukan pada orang lain, apapun itu, hal tersebut akan selalu membekas dan menorehkan tanda pada orang lain untuk selamanya”.
Mengakhiri pembicaraan dengan penjual buku tadi, kuselipkan selembar uang kertas rupiah dengan nilai tertinggi pada kantong saku penjual buku tadi, sembari mengambil buku yang paling kecil dan paling tipis yang dimilikinya, kuucap agar kembaliannya untuk dia saja.
dari balik kaca ini, kulihat dia termagu, diam sejenak dan ada guratan senang tertera di wajahnya. dia beranjak pergi, dan aku yakin, hari ini dan esok dia masih bisa bernafas lega menghadapi hidup.
entah lusa….
.
.
NB : tak ada yang tahu akan dimana kita esok hari, seperti roda, akankah kita akan tetap di tengah? diatas? atau malah terjepit di bawah?? entah…untuk itu, berbuat baiklah dengan HATI.

.
di sebuah Minggu pada pukul 6 dinihari…
Coba lihat de, tatapan mata mereka tampak iri melihat aku memelukmu, dan aku yakin mereka pasti berharap aku mati agar mereka dapat menggantikan posisiku memelukmu. aku tahu itu de, karena pada suatu masa akupun pernah iri melihat sebuah pasangan tengah merajut cinta dan kasih sayang, dan saat itu aku sendiri.
aku tak menyalahkan tatapan mereka de, karena dikau memang begitu menawan buat para mata. dan sungguh, kau memang indah de. apapun yang kau lakukan selalu membuat jantungku serasa berhenti berdetak. senyum dan tutur katamu selalu membuat aku semakin cinta padamu. tertumpuk sejuta rindu jika ku jauh darimu, walau sehari.
dan kau tahu, semua sms yang ku kirim padamu saat ku jauh dari sisimu isinya selalu benar adanya.
Siang itu, di rumah yang menyimpan kasih ini pada pukul 12 siang…
terik de, dan matahari seakan ingin meredupkan rasa cintaku padamu. tapi tak akan pernah bisa de, sekeras apapun usahanya tak akan mampu lumpuhkan hatiku yang selalu kusandarkan padamu. siang itu, saat aku pulang kau tersenyum dan menyajikan aku segelas air pelepas dahaga, dan aku menyukuri nikmat memperolehmu, kuhaturkan terimakasihku padaNYA.
Pagi ini, saat mentari pagi menyapaku dan senyummu menyambutku…
aku telah yakin bahwa hanya engkau yang aku cinta sebagai pasangan hidupku, hari ini, esok dan sampai mata ini menutup untuk selamanya.
NTB :
Dedicated for my Beloved Silvia Corselita, yang membuat hari-hariku selalu indah, bersamamu tuk aku: setiap hari adalah Valentine…

.
Jujur, sebenarnya saya merasa agak janggal untuk menaruh kalimat diatas sebagai judul, tapi coba kita tengok apa yang tertulis di sini…
Saya hampir tidak pernah percaya jika lelaki dapat hidup secara normal dengan satu wanita!! mengapa tidak, karena sifat dasar kaum pria adalah selalu menginginkan lebih (termasuk saya) satu wanita dalam hidupnya, tinggal berani atau tidaknya dia untuk menunjukkan hal tersebut…
hal tersebut saya pandang (sebagai lelaki) normal adanya, karena sifat “keinginan mencoba” selalu ada dalam setiap diri lelaki, tapi apakah hal tersebut dilakukan karena si lelaki ingin melakukan hubungan jangka panjang lebih dari satu wanita untuk selamanya? jawabannya pasti “tidak”.
kaum lelaki hanya memiliki keinginan untuk “merasakan” wanita lain sebatas “bagaimana sih rasanya”. hal inilah yang mendorong tiap lelaki melirik, mendekati dan merasakan wanita lain (hehe, bahasanya norak & dangdut abist ya???)
sikap tadi menjadi tidak adil terhadap wanita, karena hal tersebut hanya berlaku satu sisi (lambang keegoisan kaum lelaki) karena lelaki boleh menyentuh lebih dari satu wanita akan tetapi bagi wanitanya, jangan sampai disentuh oleh lelaki lain.
jika sampai terjadi sebaliknya hanya ada dua pilihan bagi si lelaki, melepaskan si wanita atau menjadi pecundang seumur hidupnya…
benar tidaknya postingan saya ini hanya kaum lelaki yang tahu, dan wanita selalu menjadi “korban” dari sebuah kenakalan lelaki dewasa, walau persoalan tersebut selalu berada di grey area, area yang hanya lelaki yang tahu.
sama tidak tahunya kami mengenai penyebab mengapa wanita “hobby” utamanya shopping dan maaf, mengomel???
sebagai penutup,
jika pertanyaan mampir di telinga saya tentang apakah benar lelaki tak pernah puas dengan satu wanita??? maka biarlah saya kembalikan pertanyaan tersebut ke seluruh kaum lelaki di dunia, silahkan menjawab…

.
aku terdiam seribu bahasa,
tak sepatah kalimat pun yang dapat kurangkai,
lidahku kelu, suara pun jadi malu.
saat jumpa pertama.
.
setelahnya.
.
hampir dua bulan kita bersama,
tersenyum, tertawa, melepas penat kehidupan selalu berdua,
aku terikat pada engkau laksana kacang tanah,
dua dalam satu ikatan.
.
jika tak salah aku menafsirkan,
pangutan bibirmu di bibirku menandakan:
bahwa kita memiliki takdir sama,
tuk saling memiliki.
.
dua minggu berselang.
.
kini kau hilang, begitu saja. juga tanpa pesan!
.
sekian lama.
.
dan sepucuk surat ini, benar, yang berwarna biru itu,
setelah sekian lama,
menjelaskan kepergianmu.
.
kau pergi karena tangan dan jari ini.
.
tangan dan jari ini.
.
tangan dan jari.
.