saya terusik lagi hari ini. oleh rasa yang muncul dari diri sendiri, oleh sebuah pertanyaan dari dasar hati, yang menohok jantung dan memvonis mati, who are you? you’re nobodyness!!
dan dua bintang kemilau beserta sang bulan menyentuh bahuku, dengan senyum ramah memberitakan bahwa dunia memang luas, dengan kebesaran rabb yang menghaturkan trilyunan bakat dan kebolehan yang tak berbanding, mengalirkan berbagai kelebihan dan kekurangan.
tangan ini digenggam sang bulan, mengajak untuk diam sejenak dan melihat sekeliling. sebentar, katanya, pejamkan mata dan kuajak kau mengitari bumi di sisi lainnya. melangkah diatas udara, sang bulan berkata, buka matamu!! dan kulihat anak kecil di tengah hiruk pikuk jalan raya, dengan menggengam erat kaleng lusuh mengetuk pintu mobil-mobil yang angkuh. sekejap yang lain, telunjuk sang bulan mengarah pada satu arah, kuikuti dan kutengok seorang tua tengah mengayunkan gancu ke plastik kotor, dan memindahkannya ke punggung yang menggotong keranjang. pejamkan lagi matamu, katamu. dan ketika kembali kubuka, aku berada dikerumunan ribuan pekerja, berdiri dengan tangan bergerak cepat mengawinkan tembakau dan kertas. tak ada kata diam untuk si tangan, walau hanya untuk memainkan jari diatas keypad memberitakan kejenuhan.
dunia maya. dalam setengah sadarku, bumi berputar terasa cepat. saat sadar penuh, aku berada diruang serba putih, kulihat anak kecil dengan perut membesar karena tumor. kulihat dada dan perut dipenuhi besi per berkarat. kulihat seseorang tanpa tangan. kulihat tatapan kosong pria diatas kursi roda. kulihat pria kehilangan kaki. kulihat selang-selang infus menusuk tak kenal perih, pada urat nadi. kulihat alat bantu pernapasan. kulihat kulit yang terbakar. kulihat mata yang ditutup perban. hanya erangan, helaan nafas panjang, jerit kesakitan dan isak tangis yang mengharukan. aku terdiam.
lipatan buku telepon milik telkom menghantam keras ke kepalaku, dan hempasannya membuat aku kembali berada di sebuah alat seharga sepuluh juta, memiliki layar, bertombol huruf dan angka. segelas teh hangat, beberapa potong pisang goreng dan bermacam orang diluar ruangan, yang dengan sedikit saja suaraku terdengar, mereka akan sesegera mungkin menyongsongku, menemani.
aku mencoba mengingat kejadian sebelum buku telepon menghantam kepalaku, ya, sang bulan tadi sempat berkata lirih sebelum pergi, kalimat untuk kuingat selamanya, bahwa :
“kita tak pernah tahu apa yang kita miliki, sebelum kita kehilangan“
& Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar

nice . . .
“kita tak pernah tahu apa yang kita miliki, sebelum kita kehilangan“
itu berarti bahwa kita harus mensyukuri dan menjaga apa yang Allah beri buat kita..jangan sampai kita menyia-nyiakannya…
makasih buat renungannya yah
subhanallah……
salut deh….
keep smile ya….
slmt menunaikan ibadah puasa,mhn maaf lahir dan bthn bila ada kata2ku yg salah
salamku
Iyaa mas, kadang kita baru ngerti dan menghargai sesuatu setelah sesuatu itu beranjak pergi
Bener sekali…
Terkadang kita justru jauh lebih beruntung dari orang2 di sekitar kita,,Tapi ntah kenapa kita selalu merasa menderita lebih dari orang2 di sekitar kita…
anda juga begitu indah dalam bertutur, mas…
@dhie :
indah banget mas, kata2nya…sebuah kenyataan yang pilu..dan menyadarkan kita bahwa sering kali kita hampir lupa tentang pentingnya sesuatu sampai kita benar2 kehilangan…sering pula kita lupa bersyukur dengan apa yang kita miliki…tulisannya memberi inpirasi.. Nice..
its so inspiring me…thx
Bagus … saya pernah merasa sangat mencintai setelah saya kehilangan semuanya. makasih diingatkan.